PENGAMBILAN KEPUTUSAN (2/Lanjutan):

Sifat, Outsourcing, dan Pelibatan Keluarga

  1. Pengambilan keputusan dalam suatu organisasi Rumah Sakit senantiasa dilakukan dan juga dibutuhkan. Untuk itu perlu Strategi untuk memilih yang paling sesuai dengan preferensi pembuat keputusan dengan berbagai pertimbangan. Dua hal mendasar yang menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan, yaitu a) tingkat kepastian preferensi hasil yang diharapkan bisa dicapai oleh pihak-pihak terkait, dan b) tingkat kepastian dalam hubungan sebab akibat. Kedua hal itu menjadi dasar dalam suatu pengambilan keputusan. Diindikasikan ada 4 sifat pengambilan keputusan, yaitu pengambilan keputusan yang dibuat berdasarkan perhitungan/komputasi, kompromi, penilaian/ judgement, dan inspirasional. Berikut ini penjelasan dan contoh-contoh peneraannya(1).
    1. 1 Suatu pengambilan keputusan dikatakan bersifat komputasi (perhitungan sesuai standar) yang bersifat rutin, bila dalam hal ini semua pihak yang terlibat telah sepakat dengan preferensi hasil dan kepastian hubungan sebab-akibat yang relative mudah, contoh: Pada pembayaran jasa layanan kesehatan dari pasien kepada Rumah sakit atau klaim asuransi dari Rumah sakit ke BPJS, yang sudah ditentukan tariff per item jasa layanan tersebut. Contoh lainnya adalah pada penentuan stock obat dalam suatu Rumah Sakit, agar tidak terjadi stock yang terlalu banyak, yang dihitung berdasarkan standar perhitungan yang otomatis, misalnya pada saat stock obat tersisa 10% maka segera dilakukan penambahan stock. Pengambilan keputusan ini terutama dilakukan oleh Kepala bagian atau unit atau departemen yang berwenang dalam pengelolaan stock obat dan pendukungnya.
    1. 2. Suatu pengambilan keputusan dikatakan bersifat kompromi, bila dalam hal tidak tercapainya kesepakatan atas hasil yang diharapkan oleh pihak pihak terkait, sehingga dipilih kata sepakat yang bersifat win-win solution (kompromi) atas hasil yang dinginkan. Contoh: dalam hal Rumah sakit harus memilih diantara dua pilihan, apakah membeli peralatan CT scanner atau meningkatkan kapasitas unit Laboratorium.  Penting untuk dicatat bahwa faktor teknologi, ekonomi, regulasi eksternal, dan persaingan, akan mempengaruhi jumlah pengambilan keputusan kompromi yang harus dibuat rumah sakit. Pengambilan keputusan yang bersifat kompromi ini merupakan bidang utama keterlibatan dokter dalam pengambilan keputusan di rumah sakit, karena ada kecenderungan masing-masing kelompok spesialis akan berusaha meningkatkan kualitas layanan kepada pasien. Dengan demikian, sebagian besar dokter akan terlibat dalam keputusan kompromi ini.
    1. 3. Suatu pengambilan keputusan dikatakan bersifat penilaian (judgement), bilamana preferensi hasil telah disepakati tetapi masih terdapat ketidakjelasan tentang bagaimana cara melakukannya dan bagaimana hubungan sebab-akibat atau mengandung resiko yang sulit. Contoh: pengambilan keputusan untuk memperbaiki posisi keuangan rumah sakit. Dalam hal ini Dokter akan semakin terlibat dalam pengambilan keputusan yang bersifat penilaian ini, tetapi dengan alasan berbeda dibandingkan dengan keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan kompromi.
    1. 4. Suatu pengambilan keputusan dikatakan bersifat Inspirasional, bilamana terdapat contoh keberhasilan tentang preferensi hasil dan hubungan sebab akibat yang minimal yang telah dilakukan oleh organisasi Rumah sakit yang lain. Pengambilan keputusan inspirasional ini bersifat transisi, yang selanjutnya akan dikembangkan menjadi pengambilan keputusan bersifat penilaian atau kompromi. Dalam proses ini, keterlibatan dokter semakin penting. Pesatnya perkembangan dan perubahan teknologi baru, regulasi, dan kompetisi sangat mempengaruhi pengambilan keputusan, apakah keputusan besar kompromi, penilaian, maupun inspirasional, sehingga membuat perbedaan antara pengambilan keputusan klinis dan administrasi menjadi kabur. Hal itu telah membuat posisi dokter dan manajemen/administrator menyadari mereka semakin saling bergantung satu sama lain
  2. Pengambilan keputusan Outsourcing. Outsourcing adalah salah satu alat dalam manajemen/administrasi kesehatan yang dimaksudkan untuk penghematan biaya dan sekaligus peningkatan kualitas, dan jumlah kontrak outsourcing terus meningkat. Pengambilan keputusan outsourcing cukup rumit dengan banyak faktor yang dipertimbangkan. Outsourcing dianggap sebagai salah satu alat untuk pengembangan organisasi dan promosi produktivitas oleh manajer. Dalam beberapa tahun terakhir, outsourcing layanan kesehatan telah menjadi signifikan. Jadi apa faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan outsourcing layanan kesehatan? Hasil penelitian Al Maqbali MA(2) menunjukkan ada 6 faktor utama yang mempengaruhi outsourcing dalam layanan kesehatan, meliputi strategi, kualitas, manajemen, teknologi, fitur kinerja, dan ekonomi. Pengambilan keputusan untuk melakukan outsourcing layanan kesehatan adalah keputusan yang kompleks dan multi-kriteria, oleh karena itu, ketika memutuskan untuk melakukan outsourcing layanan kesehatan, perhatian harus diberikan pada ke-enam factor tersebut diatas.
  3. Pengambilan keputusan perawatan dengan melibatkan keluarga. Melibatkan anggota keluarga dalam proses pengambilan keputusan perawatan adalah strategi kunci untuk mendukung perawatan pasien dan mengarahkan perawatan berpusat kepada pasien. Ketika keluarga berperan aktif pengambilan keputusan tentang perawatan mereka, hasil kesehatan akan lebih baik, dan kepuasan pasien meningkat, dan seringkali, biaya lebih rendah,” kata sekelompok ahli dari Kolaborasi Perawatan Primer yang Berpusat pada Pasien, Institute for Patient are Centered Care, dan Planetree(3). Jalan menuju keterlibatan keluarga yang lebih baik dalam pengambilan keputusan bersama terlihat seperti pengambilan keputusan bersama dengan pasien secara individu. Penyedia perlu menawarkan informasi yang cukup tentang masalah yang ada dan mendukung pendekatan yang berpusat pada pasien dan keluarga. Dokter juga perlu memahami preferensi pasien untuk keterlibatan keluarga. Dalam beberapa kasus, pasien mungkin tidak menginginkan tingkat keterlibatan keluarga yang tinggi. Penyedia juga dapat menemukan keluarga dan pasien dengan keinginan yang berbeda. Dalam kasus ini, dokter perlu menyadari bahwa pasien pada dasarnya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, namun sekaligus perlu ada keseimbangan antara yang diinginkan pasien dan yang diinginkan keluarga, kata Harrison, Direktur Riset di Planetree. Pengambilan keputusan bersama adalah kunci untuk mengarahkan perawatan yang berpusat pada pasien. Dokter dapat memastikan perawatan sesuai dengan keinginan pasien. Profesionalisme dalam layanan kesehatan perlu menggunakan keterampilan komunikasi dan edukasi yang baik, dan menggabungkan preferensi pasien, serta mendukung anggota keluarga dalam pengambilan keputusan bersama yang efektif.

Referensi:

1.         Medicine (US) I of, Gray BH. Physician Involvement in Hospital Decision Making [Internet]. National Academies Press (US); 1983 [cited 2018 Dec 25]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK216768/

2.         Al Maqbali MA. Factors that influence nurses’ job satisfaction: a literature review. Nurs Manag Harrow Lond Engl 1994. 2015 May;22(2):30–7

3.         PatientEngagementHIT. 3 Best Practices for Shared Decision-Making in Healthcare [Internet]. PatientEngagementHIT. 2017 Available from: https://patientengagementhit.com/news/3-best-practices-for-shared-decision-making-in-healthcare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *