PENGAMBILAN KEPUTUSAN: TEORI DAN PRAKTEK

Pengambilan keputusan merupakan bagian dari fungsi-fungsi manajemen. Jadi fungsi-fungsi manajemen terdiri dari planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), staffing (memenuhi kebutuhan dan mengatur Sumber Daya Manusia), controlling (melakukan kontrol), directing (mengarahkan), dan decision making (pengambilan keputusan). Perencanaan adalah serangkaian petunjuk dan ketetapan apa yang dibutuhkan untuk dicapai, menetapkan prioritas dan target kinerja. Pengorganisasian adalah semua rancangan organisasi atau devisi khusus, unit, atau pelayanan yang menjadi tanggungjawab manajer, merancang hubungan pelaporan dan pola interaksi yang diinginkan. Menetapkan posisi, memberi tugas pada team work, mendistribusikan wewenang dan tanggungjawab adalah komponen yang sangat penting dari fungsi pengorganisasian. Staffing adalah memenuhi kebutuhan sumber daya manusia dan mempertahankannya, mengembangkan dan memelihara tenaga kerja melalui berbagai strategi dan taktik. Controling adalah mengontrol aktivitas dan kinerja, serta melakukan tindakan yang tepat untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan kinerja. Directing adalah memulai tindakan di dalam organisasi melalui kepemimpinan yang efektif, motivasi, dan komunikasi dengan bawahan. Decision making adalah fungsi yang sangat penting untuk semua fungsi manajemen yang telah disebutkan sebelumnya dan cara-cara fungsi manajemen pengambilan keputusan yang efektif berdasarkan pada pertimbangan manfaat dan ditarik dari berbagai alternative. (Thompson et al., n.d.)

Manajer pelayanan kesehatan ditunjuk pada posisi otoritas dimana mereka membentuk organisasi dengan membuat keputusan penting. Keputusan tersebut berhubungan, misalnya untuk merekrut dan mengembangkan staff, mengakuisisi teknologi, tambahan pelayanan atau menguranginya, dan mengalokasikan dan membelanjakan sumber daya keuangan. Manajer pada semua tingkatan organisasi membuat keputusan, dengan demikian mereka membuat pilihan. Misalnya manajer puncak membuat keputusan tentang tujuan organisasi mereka, dimana menempatkan fasilitas perusahaan atau pasar baru apa yang akan dimasuki. Manajer tingkat menengah membuat keputusan tentang jadwal produksi, masalah kualitas  produk, meningkatkan pembayaran dan disiplin pegawai. Pengambilan keputusan bukan hanya pekerjaan manajer, tetapi pekerjaan semua orang yang berpengaruh terhadap pekerjaan dan organisasinya, terutama untuk memperbaiki kinerjanya.

Turpin dan Marais membandingkan Antara teori dan praktek pembuatan keputusan dengan melakukan penelitian pada enam orang pengambil keputusan terkemuka tentang gaya pengambilan keputusannya dan teknologi pendukung dalam pengambilan keputusannya. Ditemukan variasi yang signifikan dalam gaya pengambilan keputusan secara individual, tetapi ada tema sentral yang muncul yaitu pentingnya sensitivitas dalam konteks pengambilan keputusan, informasi yang dapat dikumpulkan dan penggunaan intuisi. Ada beberapa model dalam pengambilan keputusan (Turpin and Marais, 2004).

  1. Rasional Model (The Rational Model)

Manajer yang rasional melihat asumsi bahwa seorang pengambil keputusan yang rasional dan dengan informasi yang lengkap. Proses pengambilan keputusan yang rasional terdiri dari beberapa langkah sebagaimana diberikan oleh Simon pada tahun 1977 (Turpin and Marais, 2004):

Intelligence: menemukan kesempatan untuk membuat keputusan

Design: menemukan, mengembangkan dan menganalisis kemungkinan jalur-jalur untuk melakukan tindakan.

Choice: memilih jalur tertentu untuk melakukan tindakan dari alternative yang tersedia; dan

Review: menilai pilihan-pilihan yang lalu.

Di dalam rasionalitas yang sempurna atau klasik, metode analisis keputusan digunakan untuk menilai  manfaat pada setiap pilihan selama fase pemilihan dengan menggunakan nilai numerik. Alternatif dengan manfaat yang paling tinggi yang dipilih (Turpin and Marais, 2004). Dengan demikian manajer harus mempunyai informasi yang lengkap tentang semua alternative, tentang manfaat dan konsekuensinya, kemudian dihitung mana alternative yang lebih baik, dan urutan prioritasnya.

  1. The Model of Bounded Rationality (Model Rasional yang Terbatas) (Simon’s, 1979)

Salah satu model pengambilan keputusan adalah The Model of Bounded Rationality. Manajer yang rasional tidak selalu mempunyai informasi yang lengkap dan pilihan yang optimal tidak selalu diperlukan. Menurut Simon (1979) “perilaku rasional manusia dibentuk oleh sebuah gunting yang mempunyai dua pisau  yang terbentuk dari lingkungan tugas dan kemampuan menghitung dari aktornya”. Gunting ini memotong masalah yang besar menjadi masalah yang jauh lebih kecil yang ketika dicari nampak. Rasionalitas yang terbatas (bounded rationality) ditandai dengan aktivitas mencari dan memuaskan. Alternatif dicari  dievaluasi secara berurutan. Jika sebuah alternative telah memenuhi kriteria minimum secara implisit maupun eksplisit, maka dikatakan memuaskan dan pencarian selesai. Proses pencarian  mungkin lebih mudah dengan mengidentifikasi aturan di lingkungan tugas. Meskipun Simon telah mengklaim teori bounded rationality (rasionalitas yang terbatas), tetap saja perilaku rasionalitas. Untuk alasan ini, sejumlah peneliti seperti Huber (1981) dan Das dan Tang (1999) tidak memisahkan antara rationalitas sempurna dan rasionalitas yang terbatas di dalam klasifikasi model –model pengambilan keputusan (Turpin and Marais, 2004).

  1. The Incrementalist View

Pandangan incremental logis melibatkan proses langkah demi langkah tindakan incremental (sedikit demi sedikit) dan tetap menggunakan strategi yang terbuka untuk menyesuaikan.

  1. The Organisational Procedures View

Pandangan prosedur organisasional  mencari untuk mengerti keputusan-keputusan sebagai output dari standard operating procedures (SOP) yang diminta oleh subunit organisasi.

  1. The political view

Pandangan politik melihat pengambilan keputusan sebagai proses tawar-menawar secara pribadi, digerakkan oleh agenda-agenda partisipan dari pada proses rasional. Orang dibedakan berdasarkan pada tujuan organisasi, nilai-nilai dan relevansi dari informasi. Proses pengambilan keputusan  tidak pernah berakhir, tetapi peperangan tetap berlangsung antara koalisi yang berbeda.  Setelah satu kelompok menang dalam peperangan itu, partai –partai lainnya mungkin membentuk kelompok baru  atau bahkan menjadi lebih menentukan untuk menang pada perputaran berikutnya.  Pengaruh dan kekuatan memegang dengan cara yang disengaja  dan lebih jauh untuk kepentingan sendiri. Tujuan dari koalisis didefinisikan oleh kepentingan diri sendiri dari pada oleh apa yang bagus untuk organisasi secara keseluruhan.

  1. The garbage can model

Pandangan kaleng sampah (The garbage can view) menjelaskan pengambilan keputusan di dalam sebuah anarkhi yang terorganisir dan didasarkan pada karya Cohen, March and Olsen (1972) (Turpin and Marais, 2004). Semacam pandangan politik, model itu diasumsikan lingkungan yang pluaris dengan berbagai jenis actor, tujuan dan pandangan.  Model tong sampah menekankan pada frakmentasi dan sifat alamiah yang membingungkan dari pengambilan keputusan di dalam organisasi-organisasi, dari pada manipulasi yang disengaja sebagai implikasi dari pandangan politik.  Di dalam model tong sampah sebuah pengambilan keputusan adalah sebuah luaran atau intepretasi dari beberapa arus independent yang relative di dalam sebuah organisasi.  Arus-arus penyelesaian masalah  mencari solusi dan kesempatan untuk mendapatkan udara. Model tersebut (mencari isu yang dengannya mereka memberikan jawaban) dan partisipan (yang perhatiannya terbagi dan siapa yang datang dan siapa yang pergi), bertemu satu sama lain pada kesempatan pilihan, yang digambarkan dengan tong sampah. Ketika keputusan dibuat, tong sampah dipindahkan. Hal ini mungkin terjadi tanpa semua masalah mendapatkan solusinya atau beberapa masalah yang terkait  di dalam tong sampah. Karena partisipan adalah mereka yang menghasilkan sampah atau masalah dan solusi, pembuat keputusan secara total dependent atau tergantung pada perbaikan dari tim partisipan  di dalam tong itu (Turpin and Marais, 2004).

  1. The individual differences perspective

Perspektif perbedaan individu focus perhatiannya pada perilaku pemecahan masalah manajer secara individual, dipengaruhi oleh gaya pengambilan keputusan manajer, latar belakang dan kepribadiannya.  Perspektif perbedaan indinidu ini mencoba menjelaskan  bagaimana manajer mungkin menggunakan cara-cara yang berbeda atau menghasilkan luaran yang berbeda karena kepribadian yang berbeda(Turpin and Marais, 2004).

  1. Naturalistic decision-making

Pembuatan keputusan yang natural konsen dengan investigasi dan pemahaman pengambilan keputusan di dalam konteks yang natural (alamiah). Fondasi empiris pembuatan keputusan naturalis yang berbeda dengan model yang lain  seperti the organisational procedures, garbage can or political views. Model pengambilan keputusan naturalis ini dikenal juga dengan Recognition-Primed Decision (RPD) model menurut Klein’s (1998) yang telah melakukan penelitian terhadap 600 keputusan yang dibuat orang dalam berbagai situasi  seperti pada pemadam kebakaran, perawat dan tentara. Hal yang utama dari RPD adalah mengenal situasi yang mirip dengan pengalaman sebelumnya. Bagian yang harus dikenali terlebih dahulu adalah tujuan yang berhubungan dengan situasi itu, isarat penting dan apa yang diharapkan. Selain itu juga jalur yang digunakan untuk bertindak dan kemungkinan keberhasilannya (Turpin and Marais, 2004).

 

Bersambung….

 

Referensi

 

Thompson, J.M., Buchbinder, S.B., Shanks, N.H., n.d. An Overview of Healthcare Management 16.

Turpin, S., Marais, M., 2004. Decision-making: Theory and practice. ORiON 20. https://doi.org/10.5784/20-2-12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *