Persepsi Terhadap Gaya Kepemimpinan Atasan

Deskripsi teoretik variabel persepsi terhadap gaya kepemimpinan atasan mencakup dua teori yaitu teori persepsi dan teori gaya kepemimpinan.

Persepsi

Persepsi adalah akar dari semua perilaku organisasi.[1] Di dalam suatu kelompok atau organisasi terdapat hubungan antarpribadi yang bersifat vertikal yaitu hubungan antara atasan dengan bawahan dan sebaliknya, dan hubungan yang bersifat horizontal yaitu hubungan dengan orang-orang yang setingkat dalam struktur organisasi. Persepsi terhadap perilaku orang lain menentukan keharmonisan hubungan tersebut. Menurut Schermerhorn, Hunt, dan Osborn, persepsi adalah proses yang dilalui orang-orang di dalam menerima, mengatur, dan menafsirkan informasi dari lingkungan. Persepsi adalah cara membentuk kesan tentang diri, orang lain, dan pengalaman hidup sehari-hari. Kualitas dan ketepatan persepsi seseorang, mempunyai pengaruh besar terhadap responnya untuk suatu situasi tertentu.[2]  Menurut Ivancevich, Konopaske, dan Matteson, persepsi adalah proses yang dilalui individu dalam memberikan arti dari suatu lingkungan tertentu dengan melibatkan pengaturan dan penginterprestasian berbagai macam stimuli (rangsangan) ke dalam sebuah pengalaman psikologis.[3] Secara umum, orang-orang mempersepsikan stimuli yang memenuhi kebutuhan, emosi, sikap, atau konsep diri. Individu mencoba untuk mengartikan stimuli lingkungan dengan pengamatan, pemilihan, dan penerjemahan. Proses persepsi digambarkan sebagai berikut.[4]

Gambar: Proses persepsi: Interprestasi Individu.

Sumber: John M. Ivancevich, Robert Konopaske, dan Michael T. Matteson, Organizational Behavior and Management, Eighth Edition, (New York:  McGraw-Hill Companies, Inc., 2008), p. 87.

Menurut Kinicki dan Kreitner, persepsi adalah proses kognitif yang memungkinkan kita menafsirkan dan memahami keadaan di sekitar kita. Pengenalan obyek adalah fungsi utama dari proses ini.  Karena fokus utama perilaku organisasi adalah orang, maka penekanan Kinicki dan Kreitner pada persepsi sosial bukan persepsi obyek.[5]  Kesadaran sosial adalah jendela yang kita semua menggunakannya untuk mengamati, menafsirkan, dan menyiapkan tanggapan kita terhadap orang atau kejadian. Aktivitas manajemen yang sangat beraneka ragam, proses-proses organisasional, dan masalah kualitas kehidupan, semuanya dipengaruhi oleh persepsi.[6]

Proses persepsi menerangkan cara informasi (stimuli) dari lingkungan sekitar kita dipilih dan diorganisasikan, untuk memberikan makna bagi individu. Persepsi adalah fungsi mental dari pemberian makna informasi semacam  bentuk, warna, gerakan, rasa, suara, sentuhan, bau, rasa sakit, tekanan dan perasaan. Proses persepsi didasarkan atas keterbatasan individu.[7] Faktor psikologis juga akan mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Faktor internal ini, seperti kepribadian, pembelajaran, dan motiv, akan meningkatkan kecenderungan untuk mempersepsikan stimuli tertentu dengan sebuah kesiapan  untuk merespon dengan cara-cara tertentu. Ini disebut set persepsi individu, ssesebagaimana digambarkan dibawah ini:

Gambar:  Faktor-Faktor yang mempengaruhi set persepsi individu.

Sumber:  Laurie J. Mullins, Management And Organisational Behaviour, Sevent Edition (London: Prentice Hall, 2005), p. 438.

Theori motivasi Maslow yang paling tinggi adalah perwujudan diri (self actualization), yaitu dapat merealisasikan seluruh potensi diri, akibatnya, perwujudan diri adalah motivasi seseorang untuk mengubah persepsi terhadap diri sendiri menjadi kenyataan.  Dalam situasi kerja proses dari persepsi dan pemilihan stimuli dapat mempengaruhi hubungan manajer dangan staf lain. Persepsi seorang manajer terhadap pekerja akan mempengaruhi sikap dalam kaitannya dengan orang-orang dan gaya perilaku manajerial yang diambil. Cara para manajer melakukan pendekatan kinerja dari pekerjaan mereka dan perilaku yang ditunjukkan terhadap staf bawahannya kemungkinan besar dikondisikan oleh kecenderungan orang-orang, sifat manusia dan pekerjaan. Di dalam membuat keputusan tentang orang lain penting untuk mempersepsikan tujuan dan motivasi yang mendasari, tidak hanya akibat dari perilaku atau tindakan.[8]

Gaya Kepemimpinan

Di dalam membahas teori kepemimpinan, akan sering disebut kata pemimpin (leaders) dan manajer (managers); kepemimpinan(leadership) dan manajemen (management). Agar tidak membingungkan, maka perlu dijelasakan perbedaannya. Pemimpin mungkin saja manajer atau bukan manajer. Apakah manajer selalu pemimpin? Sayang, jawabnya adalah tidak.[9] Manajer secara formal bertanggung jawab untuk mendukung usaha kerja orang lain. Manajer membantu orang lain melakukan hal-hal penting tepat pada waktunya, berkualitas tinggi, dan dengan cara-cara yang memuaskan secara personal. Seorang manajer yang efektif adalah manajer unit, kelompok, atau tim dalam organisasi yang secara  konsisten mencapai tujuannya sementara anggotanya tetap mampu, komit, dan bersemangat. Definisi ini menfokuskan perhatian pada dua hasil kunci, yaitu: (1) kinerja tugas – kualitas dan jumlah pekerjaan yang dihasilkan atau pelayanan yang diberikan oleh unit kerja secara keseluruhan; dan (2) kepuasan kerja – bagaimana perasaan orang-orang tentang pekerjaan dan tata cara kerja mereka.[10] Sedangkan pemimpin adalah individu di dalam kelompok atau sebuah organisasi yang paling berpengaruh lebih dari yang lain.[11] Peran pemimpin terutama adalah bertanggung jawab untuk menetapkan misi organisasi, sedangkan peran manajer terutama adalah menerapkan strategi organisasi melalui orang lain. Sedangkan langkah yang ditengah – menyusun strategi untuk menerapkan misi tersebut dan meningkatkan komitmen dan usaha orang-orang  terhadap misi dan strategi itu – cenderung dilakukan oleh salah satu dari keduanya, pemimpin atau manajer. Ini adalah fungsi yang tumpang tindih yang membuat perbedaan antara pemeimpin dan manajer kabur di dalam praktek yang sebenarnya.[12] Proses kepemimpinan adalah sebuah proses yang di dalamnya seorang pemimpin mempengaruhi bawahannya dengan cara tanpa paksaan untuk mencapai sebuah tujuan.[13] Adapun peran manajemen adalah meningkatkan stabilitas atau untuk memungkinkan organisasi berjalan lancar, sedangkan peran kepemimpinan adalah meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri atau membuat perubahan yang bermanfaat.[14] Kepemimpinan dan manajemen saling berhubungan erat; bagaimana melakukan sesuatu melalui orang lain dan bagaimana membuat bekerja menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan. Enam puluh tiga persen orang-orang ditempat kerja melakukan pekerjaan yang tidak menarik, tidak menyengkan, padahal mereka menggunakan sumber-daya yang paling berharga, yaitu waktu. Jadi, harus ada cara untuk membuat pengalaman di tempat kerja yang bermanfaat, penuh arti, dan menyenangkan.

Gaya kepemimpinan menurut Mullins (di dalam kerangka kerja untuk mempelajari kepemimpinan manajerial)  adalah suatu cara melaksanakan fungsi kepemimpinan dan perilaku manajer terhadap staf bawahan, berhubungan dengan pengaruh dari kepemimpinan pada bawahan yang dipimpin.[15] Gaya kepemimpinan menurut Shani, et al., adalah sebuah pola filosofi, kepercayaan dan anggapan tentang kepemimpinan yang mempengaruhi perilaku individu ketika mengelola orang-orang.[16] Orang-orang yang dimaksud disini adalah orang-orang yang bekerja di dalam sebuah organisasi tempat gaya kepemimpinan tersebut diterapkan. Sebagaimana Kotler, et. al., three main stakeholders:  people, customers and shareholders; … all people at all levels within your organization[17]  Jadi, pihak-pihak yang paling berkepentingan dengan suatu organisasi adalah people atau orang-orang yang bekerja di dalam organisasi, sedangkan customers  adalah pelanggan, dan shareholders adalah pemilik organisasi.

Adapun kepemimpinan menurut Greeberg dan Baron, adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk mempengaruhi anggota kelompok yang lain dalam mencapai tujuan kelompok atau organisasi yang telah ditetapkan.[18] Lutans mengutip artikel Fortune yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah mengarahkan orang-orang kepada tujuan umum dan memberdayakan mereka untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapainya.[19] Menurut Robbins dan Judge, kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi satu kelompok terhadap pencapaian sebuah visi atau serangkaian tujuan.[20]  Menurut Gibson, at al., kepemimpinan adalah usaha mempengaruhi dengan memberikan motivasi kepada individu untuk mencapai suatu tujuan. Pemimpin adalah agen perubahan, yakni orang yang bertindak mempengaruhi orang lain lebih dari pada tindakan orang lain mempengaruhi mereka. Kepemimpinan terjadi ketika anggota sebuah kelompok merubah motivasi atau kemampuan orang lain di dalam kelompok. Definisi kepemimpinan memberikan implikasi bahwa kepemimpinan melibatkan penggunaan pengaruh, pentingnya menjadi seorang agen perubahan – dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja pengikut, dan fokus pada pencapaian tujuan. [21]  Dari pendapat Gibson, at al., tersebut dapat dipahami bahwa kepemimpinan adalah tindakan untuk mempengaruhi orang lain dengan memberikan motivasi sehingga terjadi perubahan tingkah laku, kemampuan dan kinerja pengikut untuk mencapai suatu tujuan. Menurut Shani, et al., kepemimpinan adalah sebuah proses yang dilakukan individu untuk mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai sebuah tujuan umum. Definisi ini terdiri dari empat aspek penting yaitu, (1) kepemimpinan sebagai proses; (2) kepemimpinan melibatkan pengaruh, (3) kepemimpinan terjadi di dalam sebuah kelompok; dan (4) kepemimpinan melibatkan pencapaian tujuan.[22] Proses yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi para pengikut atau bawahannya dapat dilihat dari tindakan pemimpin tersebut.  dengan cara-cara tertentu seperti mengarahkan, memberi dorongan dan memberdayakan bawahan dalam mencapai suatu tujuan. Pendekatan yang digunakan oleh para pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tergantung kepada pola  filosofi, kepercayaan, dan anggapan terhadap kepemimpinan itu sendiri. Dengan kata lain gaya kepemimpinan yang digunakan oleh para pemimpin berbeda-beda, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti sifat dan perilaku pemimpin, karakteristik bawahan, situasi lingkungan,  dan teknologi.

[1] Laurie J. Mullins, Management And Organisational Behaviour, Sevent Edition (London: Prentice Hall, 2005), p. 435.

[2] John R. Schermerhorn, Jr., James G. Hunt, Ricard N. Osborn., Organizational Behavior, Ninth Edition, (USA:  John Wiley & Sons, Inc., 2005), p. 100.

[3] John M. Ivancevich, Robert Konopaske, dan Michael T. Matteson, Organizational Behavior and Management, Eighth Edition, (New York:  McGraw-Hill Companies, Inc., 2008), p. 86.

[4] John M. Ivancevich, Robert Konopaske, dan Michael T. Matteson, p. 87.

[5] Angelo Kinicki and Robert Kreitner, Organizational Behavior: Key Concept, Skill & Best Practices, (New York:  McGraw-Hill/Irwin, 2008), p. 91.

[6] Angelo Kinicki and Robert Kreitner, p. 96.

[7] Laurie J. Mullins , Ibid., pp. 437-438.

[8] Laurie J. Mullins, Ibid., p. 445

[9] Ivancevich, Konopaske, and, Matteson, p. 20

[10] Schermerhorn, Hunt, and Osborn, pp. 10 – 11.

[11] Jerald Greenberg and Robert A. Baron, Behavior in Organization,  Eighth Edition, (New Jersey: Pearson Education, Inc., 2003), p. 471.

[12] Greenberg and Baron, p. 472.

[13] Greenberg and Baron, p. 471.

[14] Schermerhorn, Hunt, and Osborn, p. 241.

[15] Mullins, p. 286.

[16] A. B. Shani, et al., Behavior In Organizations, An Experimental Approach, Ninth Edition, (New York:  McGraw-Hill/Irwin, 2009), p. 204.

[17] Kotler, Philip, Hermawan Kartajaya, Hooi Den Huan, Sandra Liu, Rethinking Marketing:  Sustainable Marketing Enterprise di Asia, Singapore:  Prentice Hall. Inc, 2003., p. 5 and p. 47

[18]  Greenberg and Baron, p. 471

[19] Fred Luthans, Organizational Behavior, International Edition, (New York:  McGraw-Hill Companies, Inc., 2008), p. 410.

[20] Robbins, Stephen P.  and Timothy A. Judge, Organizational Behavior,  Twelfth Edition, New Jersey:  Person Education, Inc., 2007, p. 357.

[21]  L James. Gibson et al. Organization: Behavior, Structur, Processes, International Edition, (New York:  McGraw-Hill/Irwin, 2004), p. 299.

[22] A. B. Shani, et al., p. 198.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *