Persepsi Terhadap Kemampuan Individu Berpengaruh Terhadap Kinerja Pegawai

Kinerja individu diantaranya dipengaruhi oleh kemampuan diri yang dipersepsikan. Hal ini menjadi salah satu topik dari konsep perilaku organisasi. Adapun deskripsi tentang persepsi dan kemampuan adalah sebagai berikut.

Persepsi

Persepsi adalah akar dari semua perilaku organisasi.  Di dalam suatu kelompok atau organisasi terdapat hubungan antarpribadi yang bersifat vertikal yaitu hubungan antara atasan dengan bawahan dan sebaliknya, dan hubungan yang bersifat horizontal yaitu hubungan dengan orang-orang yang setingkat dalam struktur organisasi. Persepsi terhadap perilaku orang lain menentukan keharmonisan hubungan tersebut. Menurut Schermerhorn, Hunt, dan Osborn, persepsi adalah proses yang dilalui orang-orang di dalam menerima, mengatur, dan menafsirkan informasi dari lingkungan. Persepsi adalah cara membentuk kesan tentang diri, orang lain, dan pengalaman hidup sehari-hari. Kualitas dan ketepatan persepsi seseorang, mempunyai pengaruh besar terhadap responnya untuk suatu situasi tertentu.   Menurut Ivancevich, Konopaske, dan Matteson, persepsi adalah proses yang dilalui individu dalam memberikan arti dari suatu lingkungan tertentu dengan melibatkan pengaturan dan penginterprestasian berbagai macam stimuli (rangsangan) ke dalam sebuah pengalaman psikologis.  Secara umum, orang-orang mempersepsikan stimuli yang memenuhi kebutuhan, emosi, sikap, atau konsep diri. Individu mencoba untuk mengartikan stimuli lingkungan dengan pengamatan, pemilihan, dan penerjemahan. Proses persepsi berdasarkan intepretasi individu digambarkan sebagai berikut.

Gambar: Proses persepsi: Interprestasi Individu.

Sumber: John M. Ivancevich, Robert Konopaske, dan Michael T. Matteson, Organizational Behavior and Management, Eighth Edition, (New York:  McGraw-Hill Companies, Inc., 2008), p. 87.

Menurut Kinicki dan Kreitner (2008), persepsi adalah proses kognitif yang memungkinkan kita menafsirkan dan memahami keadaan di sekitar kita. Pengenalan obyek adalah fungsi utama dari proses ini.  Karena fokus utama perilaku organisasi adalah orang, maka penekanan Kinicki dan Kreitner pada persepsi sosial bukan persepsi obyek.   Kesadaran sosial adalah jendela yang kita semua menggunakannya untuk mengamati, menafsirkan, dan menyiapkan tanggapan kita terhadap orang atau kejadian. Aktivitas manajemen yang sangat beraneka ragam, proses-proses organisasional, dan masalah kualitas kehidupan, semuanya dipengaruhi oleh persepsi.

Proses persepsi menerangkan cara informasi (stimuli) dari lingkungan sekitar kita dipilih dan diorganisasikan, untuk memberikan makna bagi individu. Persepsi adalah fungsi mental dari pemberian makna informasi semacam  bentuk, warna, gerakan, rasa, suara, sentuhan, bau, rasa sakit, tekanan dan perasaan. Proses persepsi didasarkan atas keterbatasan individu.  Faktor psikologis juga akan mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Faktor internal ini, seperti kepribadian, pembelajaran, dan motiv, akan meningkatkan kecenderungan untuk mempersepsikan stimuli tertentu dengan sebuah kesiapan  untuk merespon dengan cara-cara tertentu (Mullins, 2005).

Gambar:  Faktor-Faktor yang mempengaruhi set persepsi individu.

Sumber:  Laurie J. Mullins, Management And Organisational Behaviour, Sevent Edition (London: Prentice Hall, 2005), p. 438.

Theori motivasi Maslow yang paling tinggi adalah perwujudan diri (self actualization), yaitu dapat merealisasikan seluruh potensi diri, akibatnya, perwujudan diri adalah motivasi seseorang untuk mengubah persepsi terhadap diri sendiri menjadi kenyataan.  Dalam situasi kerja proses dari persepsi dan pemilihan stimuli dapat mempengaruhi hubungan manajer dangan staf lain. Persepsi seorang manajer terhadap pekerja akan mempengaruhi sikap dalam kaitannya dengan orang-orang dan gaya perilaku manajerial yang diambil. Cara para manajer melakukan pendekatan kinerja dari pekerjaan mereka dan perilaku yang ditunjukkan terhadap staf bawahannya kemungkinan besar dikondisikan oleh kecenderungan orang-orang, sifat manusia dan pekerjaan. Di dalam membuat keputusan tentang orang lain penting untuk mempersepsikan tujuan dan motivasi yang mendasari, tidak hanya akibat dari perilaku atau tindakan.

Kemampuan (Ability)

Kemampuan mempunyai peran utama di dalam perilaku dan kinerja individu. Kemampuan adalah bakat untuk melakukan tugas fisik atau mental. Kemampuan seseorang secara umum stabil sepanjang waktu. Kemampuan yang telah dikenal sebagai faktor penting di dalam membantu untuk membedakan antara karyawan yang berkinerja lebih tinggi atau lebih rendah, adalah: kemampuan mental (mental ability), kecerdasan emosi (emotional intelligence), dan pengetahuan praktis (tacit knowledge). Kemapuan mental sering disebut kecerdasan. Kemampuan mental dapat dibagi ke dalam beberapa sub-karegori: yaitu kefasihan lisan, dan  dapat berpikir deduktif, induktif dan luas, daya ingat yang asosiatif, dan orientasi ruang. Kemampuan penting lainnya adalah kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang merasa menyadari diri sendiri, untuk mengelola emosi, untuk memotivasi diri, menunjukkan empati, dan untuk menangani hubungan dengan orang lain. Meskipun bukan kesimpulan, temuan penelitian menunjukkan peningkatan bahwa orang-orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi lebih sukses di dalam cara-cara tertentu pada suatu pekerjaan. Satu penelitian menemukan bahwa karyawan dengan kecerdasan emosi yang rendah bereaksi secara lebih negatif terhadap ketidak-amanan (job insecurity) dan kemungkinan besar lebih memilih menggunakan strategi yang negatif. Pengetahuan praktis adalah pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan yang diperoleh karyawan melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Dengan bertambahnya pengalaman, karyawan yang sukses belajar di dalam atau di luar pekerjaan mereka, norma-norma dari tim kerja mereka, dan nilai-nilai budaya organisasi. Menurut Robert J. Sternberg dalam Ivancevich, Konopaske, dan Matteson (2008) orang-orang yang mengembangkan dan menggunakan pengetahuan praktis akan meningkatkan kesempatan sukses di dalam organisasi. Dia percaya bahwa para pemimpin cerdas secara praktis dan manajer cenderung untuk:  (1) kekuatan mereka sendiri dijadikan sebagai modal dan mengatasi kelemahan mereka; (2) Menyadari bahwa mereka tidak bagus dalam segala-galanya; (3) Mengatasi kumpulan harapan negatif dengan orang lain di sekitar mereka; (4) Belajar dari pengalaman positif dan negatif mereka; dan (5) Mempunyai sikap dapat melakukan sesuatu.

Kesimpulannya, persepsi terhadap kemampuan diri sendiri menentukan kinerja  individu. Rasa percaya diri yang kuat sebagai hasil dari persepsi terhadap kemampuan diri mendorong seseorang untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik yang akan menghasilkan kinerja individu yang lebih tinggi. Persepsi seseorang terhadap kemampuan orang lain juga menentukan sikap di dalam berkomunikasi dengan orang tersebut. Jadi persepsi terhadap kemampuan diri maupun kemampuan orang lain menjadi dasar tindakan seseorang di dalam bekerja dan menjadi motivi kerja yang sangat menentukan kinerja individu.

Referensi

John M. Ivancevich, Robert Konopaske, dan Michael T. Matteson, Organizational Behavior and Management, Eighth Edition, (New York:  McGraw-Hill Companies, Inc., 2008).

Laurie J. Mullins, Management And Organisational Behaviour, Sevent Edition (London: Prentice Hall, 2005),

Stephen P. Robbins and Timothy A. Judge, Organizational Behavior,  Twelfth Edition, (New Jersey:  Person Education, Inc., 2007),

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *